Gambar 1. Demonstrasi oleh gerakan Black Lives Matter di Amerika (Sumber: lifestyleasia.com)

Black Lives Matter (BLM) Movement adalah sebuah gerakan yang berfokus pada perlawanan rasisme terhadap masyarakat berkulit hitam di Amerika Serikat. Gerakan yang telah tercetus sejak tahun 2013 ini kembali menyuarakan pendapatnya secara besar-besaran akibat perlakuan diskriminatif dari seorang petugas kepolisian, yang kemudian menyebabkan kematian dari seorang masyarakat sipil bernama George Floyd pada 25 Mei 2020. Kasus seperti ini bukanlah yang pertama kali, bahkan telah lama ada jauh sebelumnya.

Apabila dilihat lebih lanjut, rasisme banyak memengaruhi berbagai faktor kehidupan, salah satunya adalah pada bidang arsitektur dan tata kota. Sebagai contoh, Robert Moses, salah satu perancang New York merancang banyak jembatan beratap rendah di wilayah Pantai Jones agar tidak dapat dilalui bus kota. Dilansir dari biografinya, hal ini ia lakukan untuk menghalau masyarakat berkulit hitam dengan status ekonomi rendah yang identik dengan penggunaan bus kota. Selain itu, wilayah tempat tinggal orang-orang berkulit hitam juga dianggap menjatuhkan harga properti, sehingga pemerintah kota pada masa itu banyak melakukan segregasi kota dan penghancuran wilayah dengan alasan urban renewal.

Gambar 2: Robert Moses, penata kota New York (sumber: wikipedia.com)

Perlawanan terhadap rasisme dapat dilakukan lebih dari aksi demonstrasi atau berdonasi. Sudah waktunya desain arsitektur dan tatanan kota dibuat menjadi lebih inklusif. Inklusif yang dimaksud tidak hanya berbicara tentang penyandang disabilitas, tetapi juga kaum minoritas yang seringkali kesulitan menikmati fasilitas umum dan sosial. Pemisahan antar ras dapat diminimalkan dengan menerapkan pola desain dan program yang mendukung adanya interaksi dari berbagai kalangan ras.

Salah satu contoh yang dapat diteladani adalah Masjid Istiqlal yang terletak berseberangan dengan Gereja Katedral Jakarta. Pada awalnya, Masjid Istiqlal hendak dibangun di Jl. M. H. Thamrin mengingat banyaknya warga muslim di lokasi tersebut. Namun, Ir. Soekarno menolak pendapat tersebut dan meletakannya di samping Gereja Katedral Jakarta untuk menunjukkan semangat persatuan dan toleransi beragama yang kuat dari Bangsa Indonesia.

Gambar 3: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berseberangan melambangkan semangat persatuan dan toleransi beragama di Indonesia (sumber: kumparan.com)

Namun sayangnya di era globalisasi isu rasisme masih menghantui berbagai suku, ras, dan agama, terutama kaum minoritas dan masyarakat dengan status sosial yang rendah di dunia, termasuk Indonesia. Banyak kalangan yang kesulitan memakai haknya sebagaimana mestinya, terutama dalam lingkup kesehatan, pendidikan, bisnis, dan masih banyak lagi.

Gambar 4. Gerakan anti rasisme di Indonesia yang menentang rasisme terhadap warga Papua (Sumber: foreignpolicy.com)

Sebagai mahasiswa, kita harus mendukung gerakan ini. Kita harus berhenti berlaku diskriminatif kepada siapapun dan berani bertindak apabila hal tersebut terjadi ke diri sendiri ataupun orang lain. Sebagai sesama manusia, sudah seharusnya kita bahu-membahu melawan rasisme dan berbagai bentuk perlakuan diskriminatif lainnya.