Abad ke-20 menjadi saksi meluasnya budaya urban, dimana populasi penduduk kota mencapai setengah dari penduduk dunia. Tak ayal, perencanaan kota yang baik dan efektif pun menjadi sarana utama dalam menanggulangi berbagai permasalahan yang diakibatkan meledaknya jumlah penduduk di perkotaan. Menanggapi permasalahan tersebut, arsitektur perkotaan modern pun berfokus pada pembangunan infrastruktur, teknologi, serta bangunan bergaya internasional yang diproduksi secara massal di seluruh kota-kota di dunia. Sebagai konsekuensinya, kontekstualitas bangunan terhadap sejarah, budaya sosial, dan lingkungan pun dikesampingkan.

Picture

Gambar 1. Jacques Ferrier, maestro arsitek sekaligus urban planner asal Prancis. (dok.SKETSA)
Gambar 2. “A Vision for the Sensual City” menjadi tajuk utama dari pameran arsitektur yang menampilkan karya-karya terbaik dari Jacques Ferrier. (dok.SKETSA)
Jacques Ferrier, seorang arsitek sekaligus urban planner ternama asal Perancis, menawarkan pendekatan alternatif dalam arsitektur kota modern melalui konsep “Sensual City”. Ferrier melihat setiap situasi urban sebagai kesempatan untuk menciptakan  arsitektur yang unik dengan berlandaskan kontekstualitas terhadap lingkungan, budaya, geografi, dan iklim.

Picture

Gambar 3. Suasana pembukaan pameran “A Vision for the Sensual City” yang turut dihadiri Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Marc Ayrault. (dok.SKETSA)
Gambar 4. Jacques Ferrier menjelaskan konsep “Sensual City” yang menjadi landasannya dalam mendesain. (dok.SKETSA)
Bertempat di The Noble House, Kuningan, Jakarta Selatan, pameran “A Vision for the Sensual City” dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Marc Ayrault dan Jacques Ferrier sendiri. Pria yang memulai perusahaannya sendiri, Jacques Ferrier Architecture, pada tahun 1993 ini mengungkapkan bahwa walaupun mempunyai kondisi dan konteks sejarah yang berbeda, kota Paris dan Jakarta tengah menghadapi tantangan yang serupa untuk mengombinasikan lingkungan alamiah dengan lingkungan buatan dalam pembangunan kota. Maka dari itu, diperlukanlah pedekatan “Sensual City” untuk menjadikan kedua kota tersebut menjadi yang terdepan secara global dalam pembangunan kota berkelanjutan.

Picture

Gambar 5. Maket dari proyek rehabilitasi Lunel Arena, sebuah amphitheater public di kota Lunel. (dok.SKETSA)
Gambar 6. Maket dari akrilik yang menunjukkan pantulan cahaya dan permainan massing dari bangunan Métropole Rouen Normandie. (dok.SKETSA)
Tidak hanya itu, pada pameran yang digelar Institut Perancis Indonesia (IFI) ini, Ferrier menjelaskan konsep “Sensual City” dimana teknologi modern, tidaklah menjadi fokus pencapaian utama dalam sebuah karya arsitektur. Teknologi, menurut Arsitek lulusan sekolah tinggi Arsitektur Ecole Centrale de Paris ini, dapat menjadi sempurna disaat Ia mampu berintegras dengan lingkungan hingga keberadaannya tidak lagi dapat disadari. Dengan adanya perpaduan antara teknologi dan lingkungan hidup, dapat dicapai pengalaman sensorik yang utuh dimana masyarakat kota dapat menikmati lansekap kota sealamiah mungkin.

Picture

Gambar 7. Maket ditampilkan dengan elegan menggunakan peti kemas pada pameran “A Vision for the Sensual City”. (dok.SKETSA)
Gambar 8. Maket The French International School of Beijing, sekolah yang menyatukan ruang kelas dengan lingkungan alami. ​(dok.SKETSA)
Pameran yang berlangsung dari 28 Februari hingga 8 Maret ini juga menampilkan karya-karya terbaik dari Jacques Ferrier seperti Paviliun Prancis dalam Shanghai Expo 2010, Museum La Voile Lorient, dan kantor Hachette Livre Vanves. Melalui karya-karya tersebut, arsitek yang juga aktif mengajar serta menulis berbagai buku dan karya ilimiah ini juga menunjukkan pentingnya menggali seluruh potensi masa kini dan masa depan dari sebuah kota sebagai kerangka dasar dalam mendesain arsitektur perkotaan yang inovatif.

Picture

Gambar 9. Maket dari proyek Zagreb Towers di Zagreb, Kroasia. (dok.SKETSA)
Gambar 10. Tidak hanya maket, pameran ini juga menampilkan beberapa literature yang ditulis oleh Jacques Ferrier. (dok.SKETSA)
​Karya-karyanya yang tersebar di berbagai bagian dunia juga membawa Ferrier memenangkan berbagai penghargaan di bidang arsitektur seperti Prix de la Premiere Oeuvre du Moniteur dari majalah arsitektur dan urbanisme Le Moniteur dan juga 3 nominasi dari Kementrian Kebudayaan dan Komunikasi Republik Prancis untuk penghargaan arsitektur tertinggi di Prancis, Gran Prix d’Architecture. Atas jasa dan dedikasinya dalam bidang arsitektur baik keilmuwan maupun praktis, Ferrier dianugerahi gelar Chevalier de l’Ordre National du  Merite dan Chevalier des Arts et des Lettres dari pemerintah Perancis.

Picture

Gambar 11. Maket proyek kantor media ternama asal Perancis, Hachette Livre di Vanves. (dok.SKETSA)
Gambar 12. Maket Aqualagon, proyek sarana rekreasi waterpark yang terletak didekat Disneyland Paris. (dok.SKETSA)
Selain berkarya dalam studionya sendiri, dedikasi Ferrier terhadap pengembangan pembangunan kota dengan humanis dan penuh kepekaan juga membawanya berkolaborasi bersama arsitek Pauline Marchetti dan ahli filsafat Philippe Simay untuk mendirikan Sensual City Studio pada tahun 2010, sebuah laboratorium yang berfokus pada riset dan inovasi dalam mewujudkan pembangunan arsitektur dan kota yang berkontribusi terhadap masyarakat secara berkelanjutan. (NH)