Lebaran kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang notabene-nya saya hanya diam merenung di dalam rumah. Kali ini saya berkeliling Jakarta, mencoba menggali kota metropolitan terbesar Indonesia sambil berharap kalau-kalau ada harta terpendam yang belum saya temukan. Ditemani oleh kamera baru, saya menjajal kemampuan fotografi sambil  mengunjungi objek-objek arsitektur yang menarik untuk menghilangkan kejenuhan dari libur semester yang panjang ini.

Tidak seperti orang-orang kebanyakan, saya selalu random dalam melakukan perjalanan. Spontanitas, itu prinsip yang saya pegang setiap kali berpergian ke tempat-tempat baru, demi menemukan hal-hal baru yang mengesankan. Di perjalanan ini saya mencoba mengabadikan setiap objek menarik yang ada di sekitar saya. Bermula dari tempat yang saya minati seperti stasiun kereta, saya coba menjatuhkan pilihan saya pada stasiun Gondangdia.

Turun di stasiun Gondangdia, kaki saya pun menelusuri trotoar sepanjang bawah rel kereta api. Saya memutuskan untuk hunting foto di kawasan Cikini-Menteng, tepatnya ketika saya melihat sebuah bangunan kolonial yang masih terawat. Awalnya saya kira bangunan tersebut adalah bekas kantor dagang kolonial atau sebuah gereja. Ketika melihat tulisan pada gapura masuknya, saya baru tahu ternyata ini Masjid Cut Mutiah yang cukup terkenal itu. Lantas, tak saya sia-siakan objek ini dan segeralah saya masuk ke dalam kompleks masjid tersebut.

Gambar 1: “Masjid Cut Mutiah”
(sumber: dok. SKETSA)

Dari penelusuran saya, dahulu bangunan ini merupakan kantor biro arsitek N. V. Bouwploeg milik Pieter Adriaan Jacobus Moojen, seorang arsitek yang mengembangkan wilayah Gondangdia pada awal abad ke-20. Kemudian, bangunan ini terus mengalami perubahan dan beralih fungsi menjadi kantor pos, Kantor Jawatan Kereta Api Belanda, hingga Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942-1945). Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dialihkan menjadi Kantor Urusan Perumahan, lalu berlatih lagi menjadi Kantor Urusan Agama selama tahun 1964-1970. Barulah pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, melalui surat keputusan nomor SK 5184/1987 per tanggal 18 Agustus 1987, bangunan ini akhirnya dijadikan sebagai masjid tingkat provinsi.

Sekilas bentuk bangunan ini tidak seperti sebuah masjid yang identik dengan gaya timur tengah atau bentuk atap limas pada umumnya. Fasad depannya khas bangunan kolonial Hindia-Belanda, dengan bentuk massa utama seperti kubus. Tidak benar-benar kubus, melainkan berbentuk salib Yunani yang bisa mengecoh mata untuk mengiranya sebagai bangunan gereja. Atap utamanya tidak berbentuk kubah, melainkan persegi empat dengan lubang ventilasi tersusun seperti pada menara atas Gedung Fatahillah, dan mengingatkan saya pada bentuk Gereja Salib yang dulu pernah eksis di Batavia.

Interior masjid ini tidak kalah menarik juga, karena merupakan perpaduan dari gaya Art-Noveau dengan seni kaligrafi Islam. Dinding dan kolom ruangan berwarna dasar putih, dengan dasar kolom dilapisi kayu jati berwarna coklat tua. Bagian atas kolom dilukiskan dengan monogram huruf Arab dari nama-nama nabi dan rasul. Corak hias paling banyak dapat ditemui di area sekitar kiblat dan mimbar masjid. Sebagian besar dindingnya, termasuk balkon di atasnya, dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat suci dari Al-quran, dituliskan dalam warna putih dan kuning.

Gambar 2: ” Interior Masjid Cut Mutiah”
(sumber: dok. SKETSA)

Letak kiblat berada di pojok kanan masjid jika dilihat dari pintu masuk. Kiblat dibatasi dengan gapura kayu berukir sederhana, menjadi penyeimbang dengan corak warna-warni kaligrafi yang menghiasi dinding di atasnya. Posisi kiblat yang miring menyesuaikan dengan tata letak bangunan yang memang awalnya tidak diperuntukkan sebagai rumah ibadah. Mimbar utama imam lebih banyak dipenuhi ukiran-ukiran emas bercorak sulur-sulur tanaman. Sayangnya, saya tak sempat mengabadikan foto mimbar tersebut saat itu karena ruangan tersebut sedang digunakan untuk sholat.

Pintu dan jendela-jendela masjid terbuat dari kayu yang dicat coklat tua. Rata-rata jendela yang ada memiliki lubang angin pada atas daun jendela, tipikal jendela kayu tropis pada bangunan-bangunan tua Belanda. Kusen-kusen dari anak jendela dimodifikasi membentuk lengkung bawang khas lengkungan Mogul-Islam, menyatu dengan kusen utama yang berbentuk lengkungan standar. Lengkungan-lengkungan pada jendela lantai atas dihiasi dengan kaligrafi putih-hijau tua pada tepiannya.

Bagian langit-langit berupa balok-balok kayu yang saling silang membentuk grid paralel, yang dicat dengan warna kuning gading. Jendela-jendela atas yang cukup panjang memaksimalkan pencahayaan ruangan pada siang hari, menciptakan suasana megah sekaligus syahdu, mengingat bangunan ini dipakai sebagi tempat beribadah umat Muslim. Terdapat satu lampu gantung besar dari kristal yang menggantung tepat di tengah-tengah ruangan, menambah keanggunan dari masjid ini.

Keunikan lain dari masjid ini adalah ketiadaan minaret (menara suar) yang biasa digunakan untuk mengumumkan waktu sholat. Hal ini dikarenakan oleh ukuran dan bentuk dari atap masjid, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yang cukup besar memungkinkan untuk penggemaan maksimal terhadap suara imam yang memimpin sholat hingga dapat terdengar hingga ke luar masjid. Efek ini juga diperkuat dengan jendela-jendela ventilasi panjang yang terdapat pada bagian atas masjid.

Kesempatan memang tidak datang kalau tidak dicari, siapa sangka berawal dari ubin stasiun, saya bisa sampai di Masjid Cut Mutiah. Sungguh, saya pun takjub dengan keindahan dari masjid ini. Benar-benar warisan arsitektur yang tak bernilai harganya. Dengan segala keunikan yang ada, Masjid Cut Mutiah menjadi salah satu contoh baik dari akulturasi budaya Islam dengan kebudayaan setempat pada masanya, dan ikut membangun karakter orisinil bagi arsitektur Islam di Nusantara; arsitektur Islam yang adaptif dan toleran dengan kearifan lokal setempat. Karakter inilah yang wajib kembali diangkat oleh para perancang saat ini, yang tengah dalam perjalanan menemukan kembali identitas asli dari arsitektur Indonesia sendiri. (GJ)