Banjir melumpuhkan Bunderan Hotel Indonesia
(Sumber: http://kabarbogor.net/blog/kabar-bogor-atasi-banjir-jakarta-ahok-kucurkan-125-m-untuk-pemkab-bogor/)

Kata “Banjir” memang sudah tidak asing lagi di_telinga masyarakat Jakarta. Ya kita sering membuat banjir sebagai musuh, bencana dan musibah. Musibah 4 tahunan ini selalu terjadi dan sampai sekarang belum bisa diatasi pemerintah. Warga Jakarta terus meneriaki pemerintah untuk berbuat sesuatu. Setiap terjadi banjir, warga mengalami kehilangan baik dari segi ekonomi, kesehatan dan lainnya. Kehilangan tersebut tidak sedikit pasalnya banjir tersebut bukan hanya melanda sebagian daerah tetapi hampir seluruh Jakarta. Jalanan dan rumah warga menjadi korban, mereka tidak bisa beraktifitas dan beberapa tempat sumber listriknya dipadamkan. Jakarta menjadi lautan air. Lalu apakah musibah tersebut bisa diatasi? Apakah faktor-faktor yang mendukung hal tersebut? Satu kata “Drainase” yang perlu dipertimbangkan. Apakah sistem drainase di ibu kota ini sudah mencukupi untuk  segala aktifitas air yang terjadi di Jakarta? Jawabannya Tidak!
Sistem Drainase di Jakarta
“Jakarta telah gagal mengatasi sistem drainase secara menyeluruh. Drainase tidak memadai, sungai-sungai menyempit dan tidak dikeruk, daerah resapan air hilang, dan masyarakat buang sampah sembarangan. Tidak dapat dipungkiri lagi sistem drainase yang buruk ini menyebabkan banjir. Bukan hanya kerja pemerintah saja tetapi juga diperlukan kesadaran warga sendiri. “
               Banjir disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu, faktor pertumbuhan penduduk di kota Jakarta yang sangat cepat baik  dari segi angka kelahiran yang pesat dan migrasi khususnya urbanisasi, Jakarta diharuskan untuk membenahi sistem drainasenya. Peningkatan penduduk di Jakarta mencapai angka 300.000 sampai 1.000.000 ribu per tahun. Selain itu  penurunan muka tanah Jakarta yang berkisar dari 3 sampai 5 meter per tahun akibat penggunaan tanah yang berlebih menyebabkan permukaan dataran Jakarta  mendekati permukaan air disekitar sehingga akan mudah untuk air masuk ke dataran, drainase harus bekerja ekstra. Debit air juga terus meningkat, curah hujan makin besar.
Jumlah penduduk DKI Jakarta terus mengalami peningkatan secara signifikan
(Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2011/04/05/057325277/Penduduk-DKI-Jakarta-Capai-959-Juta-Jiwa)

               Ketiga faktor tersebut harus seharusnya mendorong pemerintah DKI Jakarta untuk menambah atau memerbaharui memperbaiki sistem drainase. Tetapi malahan 80% sistem drainase di DKI Jakarta rusak dan sisanya tidak berfungsi optimal. di DKI Jakarta sistem tersebut bermasalah,karena sebagian tidak berfungsi optimal, 80 persen dari drainase yang ada telah rusak, sungai belum dikeruk, Selain itu, sungai-sungai di Jakarta banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan. Permasalahan lain yang dihadapi dalam pembangunan drainase adalah lemahnya koordinasi dan sinkronisasi dengan komponen infrastruktur yang lain. Sehingga sering dijumpai tiang listrik di tengah saluran drainase dan pipa air bersih (PDAM) memotong saluran pada penampang basahnya. Sering juga dihadapi penggalian saluran drainase dengan tak sengaja merusak prasarana yang telah lebih dulu tertanam dalam tanah karena tidak adanya informasi yang akurat, arsip/dokumen tidak ada, atau perencanaan dan pematokan di lapangan tidak melibatkan instansi pengendali tata ruang.

                Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, punya penilaian tersendiri terhadap kondisi drainase ini. Menurutnya, drainase yang ada sudah tidak sesuai dengan curah hujan. Itu ditambah lagi dengan keadaan alam yang mulai parah sehingga membuat tanah tidak dapat menyerap air yang berlebihan. Drainase tidak cukup menampung kapasitas air yang ada. Kondisi ini diperparah dengan banyak bangunan rumah dan gedung yang juga tidak memiliki drainase.
Kondisi drainase yang rusak di daerah Jalan Simatupang, Januari lalu
(Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/01/16/083545502/Drainase-Buruk-Perparah-Banjir-di-Jakarta-Selatan)

Penyelesaian
               Penyelesaian dimulai dari Pemerintah yang harus menambah sebanyak-banyaknya sumur resapan dari hulu hingga hilir juga tidak boleh dilewatkan. Hal ini berguna untuk mengurangi aliran air yang banyak masuk ke Jakarta, juga pembuatan segera sejumlah pompa air khususnya di Jakarta Utara. Dengan kecepatan membangun drainase tak seimbang dengan percepatan pembangunan perumahan. dalam kondisi seperti ini, Pemda DKI harus menghentikan untuk memberikan izin bagi pembangunan mal/gedung bertingkat di daerah yang menjadi kawasan serapan air.

               Sebuah rencana pembangunan deep tunnel di Jakarta yang mempunyai 5 fungsi dirasa bisa menjadi solusi dari banjir Jakarta. Deep tunnel bisa berfungsi sebagai  pengendali banjir, jalan tol, sistem utilitas kota, pembuangan limbah kota, bahkan menjadi  terowongan air bawah tanah.
               Penanaman  pohon juga sangat berguna untuk  menyerap air yang berlebih dan Normalisasi sungai sudah sangat pasti harus dilakukan, dan ini hanya bergantung pada waktu , biaya , dan konsentrasi pemerintah. Dilain pihak warga jangan membuang sampah sembarangan karena sampah yang menumpuk tersebut bisa menghalangi aliran air pada drainase dan menyebabkan mampet.  Inilah mengapa banyak sungai yang meluap. Jika hal tersebut bisa dilakukan warga maka bak pengontrol / saringan sampah tidak perlu ada lagi sehingga aka nada penghematan biaya pada pemerintahan untuk melakukan terobosan lain. (JN)