Picture

Gambar 1. Poster Acara Creative Room at Historia
(sumber: http://www.facebook.com/creativeroomhistoria)

9 Agustus 2015. Sebuah malam minggu cerah yang mungkin dianggap biasa bagi sebagian orang, namun tidak demikian bagi pengunjung kawasan wisata Kota Tua, Jakarta. Istimewakah hari itu? Hari itu menjadi istimewa, acara Creative Room at Historia. Rangkaian hadir untuk menstimuli awareness masyarakat terhadap isu sustainability (keberlanjutan ruang) yang sangat mempengaruhi jalannya ruang publik, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.

Bertempat di Historia Food and Bar, acara yang diselenggarakan oleh Kota Tua Creative Festival ini mengundang rasa penasaran pengunjung yang berlalu lalang dengan diletakannya instalasi karya Adrian Aarnoudse. Dalam waktu sekejap, instalasi ini mampu menarik hati para pengunjung Kota Tua dan menjadi salah satu spot untuk berfoto atau sekedar duduk-duduk menikmati suasana historis yang melekat di kawasan ini.

Picture

Gambar 2. Suasana di depan Historia Food and Bar, Kota Tua, Jakarta
(sumber: dokumentasi SKETSA)

Pada instalasi yang menonjolkan kekontrasan terhadap lingkungan sekitarnya ini, Adriaan Aarnoudse mengutarakan kecintaannya terhadap material alami asli Indonesia yang sangat kaya dan kemungkinan penggunaannya pada arsitektur. Arsitek yang menerima gelar masternya di Academy of Architecture Amsterdam ini mengungkapkan bahwa karya-karyanya tidak hanya mengutamakan sisi intelektual dan estetika saja, melainkan juga datang dari rasa penasaran dan keingintahuan terhadap alam.

Picture

Gambar 3. Detail batok kelapa pada instalasi karya Adriaan Aarnoudse
(sumber: dokumentasi SKETSA)

Berbekalkan sisa-sisa batok kelapa yang dipotong persegi beserta lem, terungkap hasrat untuk mengeksplorasi lebih jauh relasi yang ditimbulkan oleh cara membangun dan cara memperlakukan lingkungan yang sudah terbangun. Suguhan karya artistik ini menjadi pembuka alur jalannya pameran ini, yang akan dilanjutkan dengan 3 karya instalasi lainnya yang terletak di lantai 2.

Menelusuri tangga menuju lantai 2, hal pertama kali yang akan dirasakan oleh para pengunjung adalah suasana kontras yang jarang sekali ditemukan pada hiruk-pikuk kota Jakarta pada umumnya. Tembok bata sederhana dibiarkan terekspos apa adanya memberikan kesan historis dan nostalgic yang melekat kuat, seakan mengajak pengunjungnya untuk merefleksikan diri dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pengunjung dapat menikmati hiruk-pikuk kehidupan di Kota Tua melalui jendela-jendela besar yang dibiarkan terbuka.

Picture

Gambar 4. Instalasi Pedestrianize  Jakarta oleh Krill Architects
(sumber: dokumentasi SKETSA)

Pada lantai keramik di dekat jendela, tersemat kritik terhadap penyelarasan public spaces di Jakarta yang dibuat oleh Krill Architects. Gambaran zebra cross yang melekat di lantai merepresentasikan timeline yang dilalui kota Jakarta. Pada mulanya, pengaturan public spaces di Jakarta diatur sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, pada masa kini penyelarasan public spaces menjadi kacau dan digambarkan sebagai siluet wanita yang terkurung kubah yang dibentuk dari tautan-tautan antara bangunan satu dengan lainnya. Kubah dan tautan yang dibuat dengan sistem 3D printing ini mengisyaratkan kekacauan yang dialami kota Jakarta, di mana public spaces tidak lagi dapat dinikmati oleh keseluruhan lapisan masyarakat. Selain itu, tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai ruang publik kini membentuk koneksi-koneksinya sendiri sehingga Jakarta kini dianggap sebagai tempat yang terdiri atas “pulau-pulau” yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

Picture

Gambar 5. Detail 3D printing dari instalasi Pedestrianize Jakarta
(sumber: http://www.facebook.com/creativeroomhistoria)

Selain itu, semakin maju zaman dan teknologi juga dianggap menjadi faktor pembentuk Jakarta menjadi kota yang hanya ramah terhadap kendaraan bermotor, namun tidak demikian bagi pejalan kaki. Oleh karena itu, di penghujung timeline ini tersirat harapan bagi kota Jakarta yang mampu mengharmonisasikan penggunaan public spaces yang baik bagi seluruh lapisan masyarakat kota Jakarta.

Pada sisi lain tembok, terdapat sebuah rak atau drawer bernama Triptych karya Marlies Boterman, prototype dari proyek pertama yang merupakan sebuah inovasi terbaru dalam hal karya seni desain produk.

Picture

Gambar 6. Triptych karya Marlies Boterman
(sumber: dokumentasi SKETSA)

Picture

Gambar 7. Detail cara kerja Triptych
(sumber: http://www.facebook.com/creativeroomhistoria
)

Di dalam karyanya ini, Marlies mengungkapkan ekspresinya di mana drawer biasanya hanya terlihat sebagai sesuatu yang monoton, berbentuk kotak, dan tertutup. Dibuat dengan mesin CNC menggunakan 100 lapisan plywood, Triptych memunculkan ide bahwa drawer yang awalnya terlihat biasa dapat memperlihatkan sisi estetika tersendiri dengan membiarkannya tetap dalam keadaan terbuka.

Bekerja sama dengan EMIC|K, Creative Room at Historia merupakan “hidangan pembuka” untuk rangkaian acara selanjutnya, yaitu kreasi eksperimental coworking space yang akan diadakan di lantai 2 gedung Historia Food and Bar, 10-15 Agustus ini.

Apa itu Coworking Space?

Picture

Gambar 8. Diagram paradigma kesinambungancoworking space
(sumber: presentasi Zero Waste Coworking Furniture by SHAU Architects)

Coworking space merupakan sebuah ide baru terhadap ruang bekerja, yang merupakan metamorfosa dari paradigma ruang kerja tradisional menjadi sebuah paradigma baru (coworking). Dalam hal ini, ruang kerja tradisional dianggap sebagai fragmen-fragmen yang memisahkan kehidupan kerja, sosial, rekreasi, dan edukasi. Dengan diciptakannya coworking space, diharapkan ke depannya masyarakat mampu membentuk sistem baru yang menghubungkan kehidupan kerja, kehidupan sosial, rekreasi, dan edukasi.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, SHAU Architects menghadirkan instalasi 1:1 dengan nama Zero Waste Coworking Furniture, yang digunakan sebagai free tryout pada tanggal 10-15 Agustus ini.

Picture

Gambar 9. Instalasi Zero Waste Coworking Furniture karya SHAU Architects
(sumber: dokumentasi SKETSA)

SHAU Architects memiliki ide untuk menghadirkan ruang kerja yang sustainable dan fleksibel, dengan target para pengguna ruang dan komunitas kreatif yang membutuhkan ruang kerja namun belum memiliki materi yang memadai. Ddidesain sefleksibel mungkin, instalasi ini diharapkan mampu untuk difungsikan baik di dalam maupun luar ruangan, yang disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia.

Picture

Gambar 10. Diagram konsep Zero Waste Coworking Furniture
(sumber: presentasi Zero Waste Coworking Furniture by SHAU Architects)

Dikarenakan prinsip 3D puzzle yang digunakan sebagai dasar merancang, instalasi ini memungkinkan penggunanya untuk memiliki berbagai ruang yang berbeda-beda tetapi dapat difungsikan secara bersamaan, seperti menjadi ruang meeting, ruang kerja individual, maupun ruang duduk yang bersifat semi-publik. Selain itu, pemilihan nama “Zero Waste”diambil dari sistem konfigurasi dari instalasi yang  meminimalisasi limbah hasil pemotongan panel-panel plywood untuk membentuk gap yang nantinya digunakan sebagai ruang kerja.

Picture

Gambar 11. Diagram fleksibilitas penggunaan Zero Waste Coworking Furniture
(sumber: presentasi Zero Waste Coworking Furniture by SHAU Architects)

Picture

Gambar 12. Diagram aplikasi Zero-Waste pada penggunaan plywood
(sumber: presentasi Zero Waste Coworking Furniture by SHAU Architects)

Instalasi Zero Waste Coworking Furniture ini selanjutnya dijadikan sebagai media untuk uji coba coworking space pada tanggal 10-15 Agustus 2015. Oleh karena itu, pihak penyelenggara ingin mengetahui dan meneliti lebih lanjut ekspektasi pengunjung terhadap rencana coworking space ini dengan membagikan kuesioner.

Picture

Gambar 13. Maket rancangan coworking space di lantai 2 Historia Food and Bar
(sumber: dokumentasi SKETSA)

Picture

Gambar 14. Maket rancangan ruang pameran di lantai 3 Historia Food and Bar
(sumber: dokumentasi SKETSA)
Berbagai kesan dan pendapat pun berdatangan. Banyak pengunjung mengaku setuju dan mendukung adanya inovasi coworking space ini. Mereka beranggapan bahwa ruang kerja fleksibel yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna sangat diperlukan dewasa ini, karena dianggap mendukung terbitnya usaha-usaha baru yang belum mampu memiliki tempat kerja sendiri. Akan tetapi, muncul pula reaksi yang menyatakan bahwa kreasi eksperimental ini masih membutuhkan berbagai pengkajian kembali guna memaksimalkan fungsi dari ruang tersebut. Sebab jika dilihat dari sisi public space-nya, kawasan Kota Tua sendiri merupakan salah satu area yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik kalangan atas, menengah, maupun kalangan bawah. Oleh karena itu, “pengkotakan” Historia Food and Bar menjadi coworking space yang nantinya akan dikenakan biaya sewa dikhawatirkan akan membentuk ruang yang tidak lagi bersifat publik dan tentunya tidak lagi dapat dinikmati oleh semua kalangan. Sungguh ironis, bukan? Semoga saja kekhawatiran ini dijadikan menjadi salah satu pertimbangan untuk mencapai kesepakatan yang dapat menguntungkan semua pihak baik pemilik maupun pengguna nantinya. (IC)