Untuk rekan-rekan yang selalu menjadi penyemangat bagi SKETSA. Salam dan semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang di tugas akhir! Ya, Kalian! Semangat ya!

Ruang ini demikian gelapnya. Gulita. Hampir tidak ada secercah sinar pun yang berhasil mencapai masuk ke tempat ini, kecuali sinar yang kubawa dari pintu sewaktu aku masuk.

Pengab seketika dapat kurasa datang menyengat. Aku sesak. Tapi itu tak mengapa. Sebab toh yang kubutuhkan sekarang ialah mencari dimanakah letak saklar lampu yang bisa segera menghadirkan sebentuk terang di hadapanku.

Aku pun meraba. Kosong. Tanganku ini hanya melayang-layang di udara. Namun sekali lagi aku meraba. Tidak ada! Aku pun heran. Bukankah setiap ruang apa pun itu pasti setidaknya terdapat sebuah saklar yang bisa dijangkau dengan gampang. Tapi ini, kok lain…

Aku pun kembali untuk meraba lagi. Tapi selang beberapa detik kemudian, tubuhku tiba-tiba saja menggigil hebat.

Masyallahhhhhhh………

Dinding ini ….. gaib! Lalu dimanakah pintu ini sewaktu aku masuk ke sini tadi? Aku betanya-tanya, seolah-olah entah pada siapa. Mungkin lantaran bingung.

Bergegas kubalikkan badan, lalu maju. Satu…. Dua…. Tiga…. Emp……..
“Oh! Tuhan,” pekikku tertahan. Sebab sudah sedemikian jauh langkahku berbalik, tetapi aku masih tidak menabrak pintu yang baru saja ku masuki tadi.

Keringat dingin pun mengucur
Satu-satu, jatuh perlahan di keningku secara teratur. Kesemuanya, aku hanyalah lebih terpana di tempatku sajah. Tak bergeming, sedikit pun. Aku takut. Aku ngeri….. aku …..

Tiba-tiba…
Entah oleh dorongan apa, aku dari keadaan diam menjadi berlari kencang, maju menerjang ke depan. Aku sama sekali tidak peduli kalau-kalau sosokku ini akan sakit apabila menabrak sesuatu, sebaliknya aku justru begitu takut seandainya aku tidak bisa lagi meraih handel pintu itu.

Dan kini!
Kenyataan memang telah terpampang jelas sudah. Aku tak akan pernah bisa menyentuh apa pun lagi disini. Aku tidak bisa meraba apa-apa lagi – apa saja di sini. Sebab semuanya kini telah menjadi kosong melompong.

“Huh!, kenapa semuanya bisa jadi begini?”
Aku menggugup. Seluruh sendi terasa melemas. Lalu jatuh tersungkur. Aku merunduk.

Beberapa saat. Suasana hening. Senyap. Tak ada tanda-tanda suara. Hampa semuanya.
Agaknya aku tidak tahu telah berapa lama aku terpekur saja di sini, setelah sesaat ku mendengar sesuatu. Sesuatu yang berbunyi seperti desingan uang logam yang berceceran disertai dengan riak air dari kejauhan. Perlahan mendekat, kemudian menyemarak. Ia dapat kurasa kini mendengung-dengung hanya beberapa meter saja dari tempatku. Dan aku meringing ketakutan.

Dalam takut ini, aku tidak tergubris lagi untuk memikirkan ke manakah pintu tadi? Tak ada sedikit pun ingatanku untuk berusaha mengingat ke hal itu. Pintu nerakakah? Pintu surgakah? Aku bodoh! Sebab keanehan yang tiba-tiba ini begitu, merusak imanku. AKu menjadi takut untuk mati sekarang. Dan keganjilan ini demikian menghantui ilusiku.

Aku frustasi!
Bunyi-bunyian ini masih terdengar mendengung dan berhenti serentak semenit kemudian. Lalu disusul oleh sebuah suara yang terasa begitu menyentak-nyentak memecah keheningan ini.

“Hai Mono, mengapakah engkau? Ayo bangkitlah. Songsonglah ke depan. Untuk apa kau hanya terpaku diam di sini? Bukankah engkau ingin keluar. Dan ingat, sekali anda memutuskan untuk mencoba masuk ke sini, maka tidak ada lagi jalan keluar kecuali maju. Atau engkau berbalik, tapi engkau akan menyesal kemudian, sebab disana yang engkau temui hanyalah kehampaan belaka. Ayolah, bangkitlah Mono!,” suara ini terdengar, menasihati.

Semula, aku memang sangat takut. Kalau-kalau ini adalah suara jelmaan setan yang betah bergentayangan di tempat-tempat gelap, seperti tempat ini. Tetapi setelah mendengar penuturannya yang melebihi keramahan, takutku pun hilang. Lalu berbalik bertanya.  “Siapakah anda sebenarnya?,” tanyaku gugup, “Dan darimana anda tahu namaku?,” lanjutku penasaran.

“Ho-hohoho…. Engkau tidak perlu bertanya untuk sesuatu yang tak perlu ku jawab, Mono”.

“Tapi…”

“Sekarang, bergegaslah cepat maju ke depan. Jangan sia-siakan waktumu di sini saja. Ce…pat…lah…bang…kit….!!!….”
Suara itu terdengar semakin melemah, lalu hilang.

“Hei, tunggu…,” cegahku. Tapi sia-sia saja. Ia tidak menyahutku lagi. Ia benar-benar telah lenyap, tak berbekas.”

“Siapa ya?”

???

Aku tetap tak menemukan jawabannya. Tapi di dalam hatiku, aku merasakan kebenaran kata-kata “orang” itu. Aku memang harus maju! Bukankah aku ingin bebas dari kegelapan beserta kepengapan sialan ini? Kenapa aku harus mendiam?

Lalu ku usahakan bangkit. Kemudian berjalan perlahan menuju lari agak kencang-semakin kencang, dan sekencang-kencangnya. Semenit berlalu, aku benar-benar merasakan perubahan.

Perubahan?

Ya. Kepengapan yang tadi begitu menyesakkan seisi ronggaku kini terasa memudar. Tidak lagi sepepat tadi. Aku pun merasa lega. Aku senang, aku girang. Harapanku bertambah, kian berkobar-kobar. Laksana pelari yang sedang mencapai garis finish. Aku sungguh tidak peduli dengan sekitarku. Yang kutahu hanyalah berlari dan terus berlari.

Tepat di depanku. Sesaat, cahaya menerobos. Entah darimana asalnya. Aku kaget. Tapi sejujurnya, kini aku bisa melihat lagi oleh terang ini. Bukan lagi merasakan, seperti dalam kegelapan ini.

Ruang ini rupanya berbentuk semacam lorong. Tapi batas dinding lorong ini terlihat begitu kabur. Sehingga aku sendiri pun kurang yakin kalau bidang yang ada di sini adalah dinding pembatasnya. Bagaimana tidak? Kalau kabut di sini hampir menyelimuti ruang ini di mana-mana. Mataku teramat muram untuk melihat jelas. Hanya saja pikiran ini masih terbesit, apakah lorong gelap tadi juga berkabut setebal ini?

Ah! Bodolah. Toh yang sudah lewat, kenapa mesti dipikirkan lagi!

Aku pun kembali menerjang kabut ini. Ke depan. Namun, belum sampai dua belas langkahku berlalu, aku baru sadar. Keadaan di sini terlihat mulai berubah. Hal ini hanya membuatku semakin terpaku diam menyaksikannya.

Kabut ini seperti menggulung mengumpul. Menggumpal menyatu. Lalu…. Mengwujud!

Wujud????

Perlahan memang, wujud ini terlihat kabur. Tapi lama-lama sesudah jelas terlihat, aku malah menganga. Bukan takjub, bukan pula heran, Dan seluruhnya hanya terjawab lewat tubuhku yang kembali menggigil.

Wujud ini semestinya tak asing lagi. Dengan kedua tanduknya yang muncul di kepala, gigi bertaring dengan ekor yang meruncing seperti halnya dengan ujung tombak yang dipegangnya. Aku tahu ini pasti iblis penggoda. Aku pun berhati-hati.

“Hai, Mono! Sobatku, kenapa engkau keliata takut padaku? Aku kawannmu! Aku datang ingin membawa kamu keluar dari sini. Ayolah, kesini! Mendekatlah! Jangan takut seperti begitu. Aku toh tidak ingin menyakitimu. Marilah!,” sapanya ramah.

Aku ragu, namun tak urung juga aku berjalan mendekatinya. Ia seperti memiliki magnet yang kuat untuk ku tolak. Aku benar-benar tak kuasa. Ia seakan-akan sedang menawarkan suatu kegembiaraan dan kebahagiaan yang tiada taranya.

“Oh Tuhan, benarkah?”, aku pun bertanya, “Kuatkanlah iman hambamu ini, Tuhan.”

Dapat ku lihat ia meringis. Seperti kesakitan, aku tidak mengerti kenapa. Sayang sekali hal ini tidak berlangsung lama. Sebab kemudian kulihat ia telah tersenyum lagi. Senyumnya lebih mirip menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang bertaring, yang seharusnya aku takut. Tapi aku kok seperti buta saja!

Ia berjalan mendekatiku, lalu mengulurkan tangannya yang penuh dengan kuku-kuku panjang. Sekali lagi aku tak kuasa menolak, perlahan ku ulurkan tanganku untuk menyambutnya. Ia semakin terlihat tersenyum. Puas.

Dan tatkala ujung-ujung tangan kami hampir bersentuhan. Tiba-tiba.

“Mono jangan kau lakukan itu. Jangan kau pegang tangan itu. Kamu akan menyesal Mono! Ia akan membawa kamu ke jalan yang salah. Jangan ikuti dia Mono, dia itu iblis! Dia adalah setan penggoda Mono,”. Suara inilah yang tadi menasihatiku, kini ia muncul lagi menggema, melarangku untuk menyambut tangan “orang” ini.

AKu  bimbang. Yang manakah yang harus diikuti?

“Orang” yang ada didepanku ini semakin menyenringai. Matanya itu begitu menarik-narik imanku untuk menurutinya.

“Ayolah Mono, cepatlah….,” “orang ini” ini semakin mendekat.

“Jangan Mono! Jangan….,” suara yang ku kenal tadi membantah.

“Ayo Mono!,”

“Jangan Mono!”

“Cepatlah Mono!” semakin mendekatiku.

“Jangan ikut dia Mono!”

Okh, aku pusing. Kututupi telingaku kuat-kuat. Aku benar-benar tidak tahu mana yang harus kuturuti. Dalam hati, aku hanya panjatkan doa. Semoga Tuhan memberikan jalan terang bagiku.

“Orang” ini kembali meringis. Dan aku yakin. Benar-benar yakin, bahwa ia kesakitan karena doa ku. Badannya yang kelihatan sakit menggelinjang. Hal ini membuat aku semakin kuat berdoa.

“Orang” ini semakin karatan, lalu jatuh menggelepar. Badannya seperti terbakar. Sesaat, asap keluar menguap dari tubuhnya. Lalu…. “orang” ini langsung gaib. Lenyap. Dan kabut yang mengumpul di tubuhnya pun menghilang. Sekarang, terang dimana-mana. Tanpa kabut lagi.

Aku kini bisa melihat sejelas-jelasnya. Seluruh ruang disini. Bahkan… di depan! Ya, di depanku terdapat sebuah pintu. Pintunya begitu besarnya, sehingga lebih menyerupai pintu gerbang kerajaan Cina tempo dulu.

Gerbang ini gemerlapnya. Besar serta kokoh! Aku terpana sambil menaksir-naksir, kira-kira berapa prajurit yang bisa membukanya. Sedang di sini, aku hanya sendiri. Mungkinkah?

Sambil bingung, tak urung langkah ku tetao berjalan ringan mendekati gerbang tersebut. Aku benar-benar takjub,

Tepat di depannya, aku sungguh-sungguh tak mengira kalau pintu gerbang ini membuka dengan sendirinya, terdorong ke sisi samping kiri-kanannya. Bagaikan pintu otomatis.

Sesaat, sinar lampu berkeelap-kerlip menerpaku. Aku terheran-heran. Dan tiba-tiba semuanya menjadi lenyap. Pintu gerbang itu???? Kemana???? Aku semakin terpana.

Kulirik sekeliling ku, sekejab berubah. Aku tidak lagi berada di dalam lorong tadi, tapi aku sedang berdiri di hadapan suatu majelis besar. Sesak. Ramai. Hiruk pikuk tepukan tangan terdengar membahana.

Untuk siapa mereka menepuk tangan????

Kembali kuteliti sekelilingku, tidak ada orang lain.

Jadi!!!!

Belum hilang kagetku, sebuah tangan menjulur ke kepalaku, seperti memindahkan sesuatu. Lalu tangan itu kembali mengulur ke hadapanku. Aku mandah saja menyambutnya.

“Selamat Saudara Mono. Kini anda telah menjadi seorang arsitek. Anda lulus dengan CUM-LAUDE.”

Aku?

(disunting dari majalah dwibulanan IMARTA-SKETSA 3, Bahana Dunia Arsitektur, tahun 1989;CA)