Bersikap lokal dan berpikir global merupakan kunci dari kesuksesan di era kini, namun itu saja tidak cukup bagi seorang arsitek. Sebagai desainer dan inovator, arsitek harus turut memperhatikan daya dukung lingkungan yang diolahnya demi menjaga keberlangsungan ekosistem. Tema inilah yang diangkat oleh tujuh orang arsitek alumnus Universitas Indonesia pada pameran bertajuk #ECO_LOCAL Architecture Exhibition yang bertempat di JAG’S Kitchen, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Picture

Lokasi #ECO_LOCAL Architecture Exhibition.
Sumber: Erick Budhi Arsitek

Picture

Suasana pameran #ECO_LOCAL Architecture Exhibition yang bertempat di café JAG’S Kitchen, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Kamis, 22 Desember 2016.
Sumber: dok. SKETSA

Pameran yang berlangsung dari 14 hingga 24 Desember 2016 ini menampilkan karya-karya dari Andi Pratama (ANDP Arsitek), Aribowo D. Sukaton (ADS Studio), Erick Budhi (BEstudio), Farrizky Astrawinata (moreids), Michael Julius Brohet (MJB Architects), Noerhadi Kritz (RDMA), hingga Sigit Kusumawijaya (SIG-sigit.kusumawijaya I Architect & Urban Designer).

Selain pameran, berlangsung juga diskusi karya bersama arsitek Irianto Purnomo Hadi, pendiri biro arsitek ANTARA, pada Kamis, 22 Desember 2016 yang ramai dihadiri oleh para arsitek dari kalangan professional hingga mahasiswa.

Tidak sebatas berfungsi sebagai hunian yang nyaman bagi klien, karya-karya yang ditampilkan tak lupa menyisipkan berbagai inovasi yang ramah lingkungan seperti konsep urban farming dan area semi-publik pada halaman rumah yang diterapkan oleh Sigit Kusmawijaya. Tidak jauh berbeda, Erick Budhi juga menerapkan roof garden sebagai green coverage yang didukung oleh pencahayaan alami serta kebun yang luas pada proyek A9 Eco House.

Konsep eco-house yang menerapkan konsep taman didalam maupun luar ruang, serta nuansa lokal pada interior bangunan juga diusung oleh Andi Pratama pada rumah karyanya. Sagala’s House karya Aribowo D. Sukaton mencoba menampung air hujan yang digunakan untuk menyirami kembali atap rumah guna meminimalisir panas sinar matahari.

Picture

Selain diskusi karya, pameran ini juga menampilkan maket dan panel dari karya-karya dari ketujuh arsitek alumnus UI yang ambil bagian dalam pameran tersebut.
Sumber: dok. SKETSA

Picture

Pameran karya #ECO_LOCAL Architecture Exhibition.
Sumber: dok. SKETSA
Lokalitas juga menjadi tema lain yang diangkat oleh beberapa arsitek lainnya dalam pameran ini seperti pada karya Michael Julius Brohet, Stilt House #2, yang mengambil inspirasi dari rumah panggung Minahasa yang juga menggunakan panel surya sebagai penunjang kebutuhan listrik rumah tersebut.

Rumah Dayak yang berbentuk panggung berbentang panjang menjadi panutan Noerhadi Kritz dalam merancang gubahan massa villa karyanya untuk meminimalisir kelembaban dengan ventilasi silang melalui sisi bawah bangunan. Farrizky Astrawinata menjadikan budaya interaksi dan toleransi yang tumbuh di Yogyakarta sebagai titik berat desainnya dengan menyediakan ruang interaksi tidak hanya bagi sesama penghuni, namun juga antara penghuni dengan alam. (NH)