Isu lingkungan memang sedang digalang di mana-mana. Mengingat kondisi lingkungan yang semakin parah akibat global warming serta efek samping yang ditimbulkan seperti naiknya air laut akibat mencairnya es kutub. Banyak negara yang mencoba mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan reklamasi. Reklamasi dilakukan dengan mengangkut batu, tanah, serta pasir dari pulau-pulau tak berpenghuni atau dari daratan. Namun pengangkutan seperti ini bila terus menerus dapat menenggelamkan suatu pulau. Bila kita memperhatikan dengan seksama kondisi lingkungan yang penuh dengan sampah, adakah pemikiran menggunakan sampah/garbage sebagai material reklamasi?

Produksi sampah di kota-kota besar semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk suatu kota. Akibatnya pencemaran sampah tidak dapat dihindari, apalagi diperburuk oleh minimnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Berbagai usaha untuk mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos, kerajinan tangan, dsb masih tidak bisa menandingi produksi sampah yang kian menggunung.

Gunung sampah yang menumpuk di sungai/kali yang ada di Jakarta
(sumber: http://foto.inilah.com/read/detail/71784/tumpukan-sampah-pasca-banjir)

Akibatnya sampah yang semakin menumpuk mulai “menggusur” permukiman masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran. Masyarakat pinggiran harus bersahabat dengan lingkungan yang penuh sampah. Mau tidak mau, ya harus mau.  Seiring waktu, rumah masyarakat didirikan di atas tumpukan sampah. Sampah yang menjadi pinjakan untuk tinggal oleh masyarakat sekitarnya dapat dikatakan sebagai “New Land”.

Wajah permukiman kumuh di TPA Bantar Gebang
(Sumber: http://www.kompasberita.com/2013/02/puluhan-tahun-pemukiman-warga-tpa-tetap-kumuh/)

Selain permasalahan sampah yang nyata ada di daratan, pencemaran sampah yang terjadi di perairan pun bisa kita lihat terjadi dimana-mana baik di sungai maupun di laut. Pencemaran sampah yang semakin banyak dan menumpuk bisa dikatakan menjadi “daratan” tersendiri. Contohnya pendangkalan sungai yang terjadi di Sungai Ciliwung, Jakarta. Awalnya kedalaman sungai mencapai 8 meter namun dalam 20 tahun terakhir kedalam sungai hanya mencapai 3-5 meter saja akibat menumpuknya sampah. Ditambah lagi dengan tumpukan sampah yang menggenang di atas air sungai.

Kampung nelayan di Muara Angke menjadi contoh nyata. Awalnya masyarakat tinggal di rumah panggung yang berada di atas air dengan kedalaman ± 2 meter. Seiring dengan perkembangan waktu penduduk kampung nelayan sendiri yang mereklamasi area tempat tinggal mereka sedikit demi sedikit menggunakan tanah, pasir, batu, serta “garbage” yang ada dan telah diolah. Memang memakan waktu yang cukup lama namun sampai sekarang hasil reklamasi yang dilakukan masyarakat tersebut dapat dikatakan berhasil.

Garbage Reclamation di Kampung Nelayan, Jakarta Utara
(Sumber: http://selokartojaya.blogspot.com/2010_11_21_archive.html)

Apabila sampah/garbage yang ada diolah dengan seksama, sampah berpotensi untuk mengatasi permasalahan yang ada terutama di kota Jakarta. Contohnya sekarang ini bisa dibilang banyak peniggian lahan untuk mencegah masuknya air/banjir ke dalam bangunan, dan yang sampai saat ini digunakan berupa pasir dan tanah yang di ambil dari sungai. Apabila material yang digunakan untuk meningkatkan lahan berupa hasil olahan “garbage” selain bisa mereduksi jumlah sampah di Jakarta dengan cukup besar, mempercepat daur ulang sampah, serta mengurangi pengerukan tanah di gunung atau sungai. (NIW)