Open Minded Architect Leads to Smart Living Development

Picture

Gambar 1. Suasana ruang pendaftaran sebelum seminar dimulai
Sumber : dok. SKETSA
Setiap pembangunan merupakan suatu pembaharuan atau perubahan lingkungan yang berhubungan dengan arsitektur dan kehidupan manusia. Di tengah maraknya profesi arsitek, semakin banyak masyarakat yang beranggapan bahwa arsitek hanya asal dalam membangun dan mendesain bangunan, serta tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk itu, Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HIMARS) Universitas Bina Nusantara mengadakan acara International Seminarch dengan tema “Open Minded Architect Lead to Smart Living Development” dimana seorang arsitek yang memiliki pandangan luas terhadap environment dan human behaviour, akan mempengaruhi perkembangan desain yang berkelanjutan, efisien, dan inovatif.

Picture

Gambar 2. Karya tugas akhir mahasiswa arsitektur Universitas Bina Nusantara
Sumber : dok. SKETSA

Salah satu acara tahunan terbesar Internal HIMARS ini diadakan pada Sabtu (16/09) di Auditorium lt. 4 Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. Dr. Tan Loke Mun dari DrTanLM Architect Malaysia, Muhammad Egha dari Delution Architect Indonesia, dan Nguyen Hoang Manh dari MIA Design Studio Vietnam adalah pembicara-pembicara pada seminar yang  dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi Jurusan Arsitektur dari dalam maupun luar Universitas Bina Nusantara.

Sebelum memasuki ruangan seminar, peserta disuguhkan instalasi photobooth dan pameran karya-karya tugas akhir mahasiswa arsitektur Universitas Bina Nusantara pada bagian depan ruangan. Pembukaan seminar diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta kata sambutan dari ketua jurusan, ketua pelaksana, serta ketua HIMARS.

Picture

Gambar 3. Sesi pertama yang dibawakan oleh Dr. Tan Loke Mun
Sumber : dok. SKETSA
​Selanjutnya, seminar diawali oleh Dr. Tan Loke Mun (Sesi I) dengan judul “Big to Small” yang membahas permasalahan air dan shelter. Isu tersebut akan semakin menjadi perhatian dalam beberapa tahun ke depan dikarenakan  gencarnya pembangunan. Pendorong lainnya adalah kepadatan penduduk yang juga semakin meningkat. Oleh karena itu melalui karya-karyanya, Beliau ingin menyampaikan bahwa kita tidak harus selalu mendesain suatu ruang yang baru, kita bisa mulai memperbaiki bangunan-bangunan yang sudah ada dalam menyikapi masalah shelter itu.

Picture

Gambar 4. Sesi kedua yang dibawakan oleh Muhammad Egha
Sumber : dok. SKETSA
Sesi II yang dibawakan oleh Muhammad Egha menyoroti bangunan rancangan Beliau yang bertujuan untuk memberi solusi terhadap lahan sempit dan kondisi ekonomi di Jakarta yang diterapkan pada bangunan Splow House. Karya Beliau lainnya yang dibahas adalah sebuah bangunan unik berkonsep dirigen dengan interior yang simple dari kayu dan bata tanpa finishing, serta bangunan politik yang merubah pemikiran masyarakat melalui open office yang juga dapat dijadikan public space.

Picture

Gambar 5. Sesi ketiga yang dibawakan oleh Nguyen Hoang Manh
Sumber : dok. SKETSA
Pembicara terakhir, Nguyen Hoang Manh, membawa sesi “Inside-out, Ouside-in” yang membedah karya-karya Beliau yang selalu mengutamakan alam dalam desain, karena kitalah yang mendesain di alam itu sendiri. Desain harus sesederhana mungkin agar manusia bisa merasakan sebuah pengalaman dan suasana yang nyaman dari alam. Inspirasi beliau sebagian besar dari rumah-rumah di Bali yang memegang kebudayaan dan menjaga alam. Menurut Beliau, apa yang didesain secara bagus dari dalam walau luarnya nampak sederhana, keindahannya pasti akan tetap terpancarkan hingga ke luar.

Picture

Gambar 6. Foto bersama pembicara, panitia, dan jurusan
Sumber : dok. SKETSA
“Persiapan acara ini sudah dimulai dari Bulan Januari untuk mencari panitia, tema, proposal, tempat, dan pada Bulan September semua persiapan sudah selesai,” ujar Dian selaku project manager dari acara International Seminarch 2017. Terpilihnya ketiga pembicara tersebut berdasarkan hal berikut: Dr. Tan Loke Mun sangat mengerti bagaimana cara mengaplikasikan material-material yang dapat digunakan kembali menjadi fasad seperti sun shading, Nguyen Hoang Manh ahli dalam menyatukan fungsi dan desain agar dapat berkolaborasi baik dengan alam, sedangkan Muhammad Egha mendapat penghargaan internasional sebagai arsitek nusantara yang dapat berbagi pengalaman bagaimana Beliau menjadi open minded architect di kalangan mahasiswa dan arsitek.

Pada seminar ini, kita sebagai arsitek dan calon arsitek dituntut memiliki pikiran terbuka dan kepedulian terhadap lingkungan untuk mendesain suatu bangunan dengan pertimbangan yang matang sehingga memiliki bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan kontekstual dengan lingkungan. Selain itu, kita juga memiliki misi untuk membantu masyarakat awam mengerti bagaimana proses seorang arsitek mendesain, serta apa fungsi dan tujuan dalam mendesain. (A)