Gambar 1. Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta
(sumber: http://exotika-lands.com/)

Jika melihat kembali kepada sejarahnya, kota yang dulu dikenal sebagai Batavia ini mulai berkembang dan meraih identitas metropolitan-nya sejak diakui menjadi ibukota Indonesia yang sah pada tahun 1966. Sejak saat itu pula, Jakarta menyandang predikat sebagai kota termodern dan termaju di kota-kota lain di Indonesia. Hal ini didukung dengan gencarnya pembangunan di berbagai sektor kehidupan, yang semuanya berpusat di Jakarta.

Secara etimologis, mudik diartikan sebagai berlayar ke udik atau ke hulu sungai (Kamus Umum Bahasa Indonesia (I: 1953, IV: 1966). Namun, ada anggapan bahwa mudik berasal dari budaya Betawi, sebab dalam bahasa sehari-harinya, mudik diartikan sebagai pergi dan sebaliknya milir diartikan sebagai pulang. Ada pula anggapan bahwa mudik merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang yang dipertahankan sampai sekarang. Beberapa ahli mengemukakan pendapat bahwa dahulu, mudik merupakan sarana kembalinya para perantau yang datang ke Indonesia pada bulan-bulan yang dianggap baik. Kebiasaan ini kemudian berkembang pada saat masuknya ajaran Hindu-Budha, di mana mudik dilakukan khususnya oleh anggota keluarga kerajaan.

Setelah masuknya Islam di Indonesia, mudik kemudian dilakukan pada saat lebaran, menjadikannya sebagai sisa-sisa kebiasaan primordial pendahulunya, serta pelengkap tradisi yang diajarkan. Mudik biasanya disertai dengan kegiatan nyekar, atau sekedar bersilahturahmi dengan sanak keluarga. Munculnya kebiasaan mudik saat lebaran juga membawa efek positif bagi sisi psikologis masyarakat Indonesia. Kebiasaan mudik dianggap membawa kembali kehangatan dalam keluarga, serta menggali kembali rasa kerendahan hati melalui kebiasaan bermaaf-maafan yang mengharmoniskan suasana keluarga. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat berusaha untuk terus mempertahankan kebiasaan ini.


​Asal Mula Mudik

Jakarta sebagai Sumber Pemudik

Siapa yang tidak kenal dengan istilah Idul Fitri atau yang biasa disebut “lebaran”? Bagi segenap umat yang merayakannya, perayaan tahunan ini bukan saja sebuah ajang kemeriahan dan kemegahan semata, melainkan juga merupakan simbolisme dari puncak tercapainya kemenangan secara spiritual.

Di Indonesia sendiri, lebaran sudah “mematenkan” tempatnya di hati masyarakat. Selain menjadi sebuah perayaan religius, lebaran juga dianggap menjadi sumber munculnya tradisi-tradisi tertentu, salah satunya mudik. Lalu, mengapa mudik kini menjadi sebuah kewajiban, kesenangan, bahkan menjadi sebuah risiko terhadap keselamatan? Mengapa kini sebagian besar pelaku mudik dianggap berasal dari ibukota Jakarta? Benarkah kini mudik sudah berubah menjadi fenomena tahunan yang memiliki dampak pada psikologis dan sosiologis masyarakat khususnya di Jakarta?

Dengan identitas demikian, Jakarta tentu saja menjadi sebuah daya tarik bagi masyarakat di kota-kota lainnya. Anggapan bahwa Jakarta memiliki suguhan gaya hidup yang makmur, hingar-bingar yang mungkin saja menyamai kota-kota besar dunia lainnya, serta fasilitas-fasilitas yang maju sudah berkembang menjadi anggapan bahwa Jakarta menyediakan peluang-peluang baru bagi siapapun yang hendak memakmurkan kehidupannya. Hal ini pula yang menjadi salah satu faktor utama banyaknya masyarakat yang memutuskan untuk merantau mengadu nasib ke Jakarta.  Sebagai dampaknya, lebaran kini dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk kembali ke kampung halaman. Selain dengan alasan untuk kembali ke kampung halaman, tradisi mudik ini juga dimanfaatkan sebagai ajang sebagian kalangan untuk berlibur, menenangkan diri dari kepenatan kota Jakarta.
          
Namun, tidak semua kalangan melakukan tradisi mudik. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan mudik ini memilih untuk menetap di Jakarta dengan berbagai alasan, baik pribadi maupun kelompok. Selain itu, Jakarta yang ditinggal para pemudiknya akan terkesan kosong dan akan mudah untuk dilewati kendaraan umum maupun pribadi. Benarkah demikian?

Gambar 2. Jemaah shalat Idul Fitri di badan jalan Salemba, Jakarta Pusat
(sumber: http://poskotanews.com)

Gambar 3. Suasana lengang di kota Jakarta saat arus mudik berlangsung
(sumber: http://www.kaskus.co.id)

Nyatanya, perginya sebagian masyarakat Jakarta terkadang justru menimbulkan fenomena baru. Sebagai contoh, masyarakat yang tetap tinggal di Jakarta bersemangat untuk mengikuti shalat Idul Fitri di berbagai tempat, sebagai penanda berakhirnya kegiatan berpuasa dan sebagai penanda kemenangan spiritual. Akan tetapi, membludaknya peminat untuk shalat berjamaah ini membuat tidak mampunya masjid-masjid tertentu untuk menampung para jamaah hingga sebagian dari mereka harus melaksanakan shalat hingga ke luar masjid bahkan sampai ke jalan raya. Intensitas kendaraan yang lebih sedikit dibandingkan hari biasa dijadikan alasan ketika keselamatan dipertanyakan. Selain itu, sedikitnya kendaraan yang lewat dianggap akan mentoleransi keadaan yang hanya terjadi setahun sekali tersebut.

Dilihat dari sisi sosiologisnya, tradisi ini juga menimbulkan masalah-masalah baru yang belum dapat dipecahkan oleh pemerintah maupun masyarakat. Setiap tahun, berita-berita di televisi ramai dengan pemberitaan menumpuknya penumpang kereta atau pesawat, kemacetan pada jalur-jalur mudik tertentu, atau bahkan kecelakaan lalu lintas yang membahayakan keselamatan para pemudik.  Kemudian selepas lebaran, hal-hal semacam ini kembali terulang pada arus balik menuju Jakarta.

Gambar 4. Suasana lalu lintas Jakarta pada hari biasa
(sumber: http://www.kaskus.co.id)

Selain itu, tradisi mudik ini turut menimbulkan problema masyarakat baru dari sisi psikologis. Maman S Mahayana, seorang Pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia mengemukakan pendapatnya bahwa Jakarta yang maju dan makmur terkadang disalahgunakan menjadi ajang untuk melegitimasikan status sosial seseorang yang merantau di Jakarta terhadap sanak saudaranya di kampung halaman. Dengan kata lain, kegiatan mudik lebaran ini dijadikan momentum untuk pamer.

Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab makin bertambahnya imigran yang beralih ke Jakarta. Tidak berubahnya kesan maju dan modernnya Jakarta yang dibawa oleh para pemudik akan menjadi salah satu pendorong para perantau baru untuk mengadu nasib di Jakarta. Masih besarnya peluang bertambahnya imigran menuju Jakarta akan menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat yang sudah mengenal dengan baik kota metropolitan kebanggaan Indonesia ini: sudah siapkah Jakarta menampung calon pendatang barunya? (IC)