Oleh: Ir. Eko Purwono MS. Arch.S

Arsitektur dan Cyberspace

Gaya Penulisan sensasional rupanya juga melanda para penulis arsitektur. Yang paling sensasional barangkali adalah memberitakan ‘kematian’ suatu gejala dalam arsitektur. Pada tahun 1986 Editor majalah Interior Architecture menuliskan tentang “matinya arsitektur pasca modern”. Ternyata yang dimaksud dengan “kematian” itu adalah adanya gejala para pengunjung yang bosan dan meninggalkan ceramah tentang arsitektur pasca modern yang dibawakan oleh Michael Graves di London. Matinya sebuah langgam arsitektur kiranya masih kurang sensational dibandingkan, “matinya arsitektur”, secara keseluruhan.

Di Inggris pada tahun sekitar 1994 diselenggarakan symposium “The Death of Architecture”. (Ikon : 9). Yang dibahas di sana adalah “Interconnected Technologies and The Urban Environment”. Jadi tidak membahas kota-kota yang benar-benar mati karena ditinggalkan oleh penghuninya, seperti halnya kota-kota hantu, yaitu bekas kota yang pernah dihidupi oleh pertambangan di Amerika Serikat pertengahan abad yang lalu.

Yang benar-benar dapat mati adalah tumbuhan dam makhluk hidup, termasuk manusia. Mati secara biologis adalah proses berhentinya kehidupan, yang diteruskan dengan proses alami berikutnya berupa dekomposisi. Namun, ada yang percaya bahwa wadag bisa saja mati. Sedangkan jiwanya tidak karena mengalami proses reinkarnasi. Gejala ini dipercaya sebagai berpindahnya roh kehidupan ke dalam wadag yang baru yang sebelumnya mengalami kematian.

Sejarah peradaban manusia menunjukkan kepada kita bahwa jarang kalaupun ada produk peradaban yang benar-benar ‘mati’, hilang dari muka bumi dan tidak pernah kembali lagi. Ada kecenderungan produk-produk peradaban yang pernah ada akan muncul kembali sebagaimana proses reinkarnasi. Mereka bisa muncul dalam ujud, ruang dan waktu yang berbeda dengan konteks di mana mereka berasal. Sebagai contoh misalnya adalah media komunikasi.

Picture

Project by Giuliano Zampi, created using sonata on a Sun workstation: a visualization of will Alshop’s cardiff Bay Visitor’s Centre

Ketika ditemukan teknologi fotografi pada pertengahan abad 19, banyak orang waktu itu yang berpikir bahwa seni lukis akan mati. Fotografi akan lebih mampu menggambarkan wajah atau pemandangan jauh lebih mirip aslinya dari pada lukisan. Demikian juga ketika muncul teknologi radio, diramalkan bahwa media koran tidak akan bisa menyaingi kecepatan pemberitaan radio. Ketika muncul teknologi televisi diramalkan bahwa media radio akan mati karena tidak menyertakan visualisasi berita. Juga, teknologi televisi berwarna diperkirakan akan mematikan industri bioskop, Yang terakhir ini bahkan mendapat saingan lebih hebat lagi, yaitu dari teknologi video tape, video CD, laser CD, digital CD, termasuk yang diiklankan sebagai home theater.

Ternyata, produk-produk budaya yang pernah diramalkan akan mati karena mendapatkan saingan dari produk yang lebih canggih dari yang sebelumnya, tetap menunjukkan keberadaannya. Memang, sebagian ada yang mengalami surut, sepertinya misalnya drive-in theater. Tetapi muncul di sekitar Jabodetabek sebagai pertunjukkan layar tancap. Piramid yang terbuat dari batu di Mesir muncul lagi di Paris namun terbuat dari kaca.

Ada sesuatu yang dianggap lebih penting pada sebuah karya inovasi dari pada pencapaian keunggulan keunggulan teknologi semata. Sesuatu itu adalah nilai manusiawi. Karya seni lukis terbukti lebih dihargai dari pada fotografi yang dapat menggambarkan obyek persis seperti aslinya. Itu bisa terjadi demikian karena lukisan memiliki aura, bersifat tunggal dan lebih banyak memiliki gagasan dan sentuhan manusiawi dari pada karya fotografi. Bahkan karya fotografi hitam-putih bagi beberapa pencinta fotografi lebih memiliki nilai seni dari pada yang berwarna yang lebih mendekati aslinya.

Dapat diungkapkan kiranya bahwa setiap inovasi tidak akan menggeser bahkan menggusur penemuan sebelumnya yang diperbaharuinya. Namun, inovasi memebri jawaban atas permasalahan yang sama dengan cara berbeda. Jadi masing-masing produk inovasi, yang lama maupun yang baru, sama-sama memiliki keberadaan dalam peradaban manusia. Masing-masing memiliki kecenderungan untuk menempati peran yang berbeda, bahkan juga bergeser dari peran semula masing-masing.

Demikian pula di bidang arsitektur. Dalam menjalani kehidupan kita tetap memerlukan lingkungan binaan yang sebagian diantaranya kita namakan arsitektur. Keterkaitan manusia dengan lingkungan binaan tempat manusia beraktifitas dijalin oleh jarring-jaring yang telah dirajut dalam kurun waktu yang cukup lama jauh lebih lama dari pada umur si pengguna lingkungan. Jaringan itu bisa kita sebut tradisi. Arsitektur bukan hanya memiliki nilai karena peranannya menyediakan wadah kegiatan bagi manusia, namun juga memiliki nilai intrinsik sebagai produk budaya. Cyberspace, sebuah wadah baru kegiatan manusia, tidak memiliki atau belum? Jaringan yang mengkaitkannya dengan si pemakai yang juga si pembuat.

Cyberspace sebagai suatu inovasi menawarkan banyak kelebihan dalam hal wadah kegiatan melebihi yang dimiliki oleh ruang arsitektur. Dalam cyberspace ruang menjadi jauh lebih luas, bahkan dapat dikatakan tanpa batas. Namun jarak menjadi semakin pendek, bahkan dapat dikatakan menjadi tanpa jarak. Kecepatan komunikasi menjadi dipersingkat secara drastic. Lebih jauh lagi, cyberspace menawarkan banyak kemudahan dan kenyamanan, diantaranya adalah interaksi. Sudah tidak mengherankan lagi jika seseorang bisa ‘mengunjungi’ sebuah museum, bisa memilih dan mengamati detail lukisan yang dipajang di sana, tanpa harus meninggalkan rumah tinggalnya. Atau dia dapat bertele konferensi dengan kenalan barunya yang terletak di belahan bumi yang lain, tanpa beranjak dari tempat yang sama. Namun inovasi ini tidak akan menggantikan, apalagi me-mati-kan arsitektur.

Experiencing sebuah karya arsitektur tidak akan tergantikan dengan karya mulasi, bahkan seandainyapunsimulasi itu juga merupakan suatu karya arsitektur. Usaha sia-sia itu seperti banyak dibuat orang pada masa Orde Baru yang baru saja lewat. Para pengunjung TMII ditawari ‘mengalami’ mengunjungi kerato Yogya dengan hanya sampai ke anjungan DIY di TMII. Begitu pula untuk mengalami Borobudur, Tongkongan Toraja, suasana kampung di Irian, dan masih banyak lagi. Kalau ada orang mencibirkan bibirnya atas gejala tersebutdan mengatakan bahwa itu hanyalah gagasan seorang first lady yang sangat terbatas wawasan budayanya, maka bandingkanlah dengan apa yang diperbuat oleh beberapa arsitek sekolahan, budayawan dan peupa ternama Indonesia. Mereka menawarkan ‘citra’ Borobodur melalui sebuah Clone-nya yang dibuat oleh seorang perupa terkemuka Indonesia di tengah sebuah real estate di pinggir kota Jakarta. Untuk lebih menambah ‘aura’ budayanya, maka diresmikanlah ‘artefak’ itu oleh beberapa menteri Kebudayaan. Real estate lainnya di kota yang sama menawarkan suasana Bali tanpa alasan budaya sama sekali. Bahkan menjelang terpuruknya industri properti di Indonesia, saking kalapnya para pedagang properti untuk memasarkan dagangannya, para calon konsumen ditawarkan tinggal di lingkungan yang bernuansakan Paris, Italia, Belanda, Swiss (tapi temperaturnya berkiras 27-32 derajat), dan tempat tempat lain tujuan wisata dunia di selatan kota Jakarta. Pantas diragukan bila benar ada orang lain yang ingin berpretensi menikmati suasanya kota-kota wisata kemudian membeli untuk tinggal di kawasan tersebut.

Kunjungan wisata ke Bali tidak akan terwakili dan terpuaskan dengan pengalaman yang hanya bisa diserap di depan monitor atau hanya dengan mengintip sebuah google yang menyajikan pemandangan Bali langsung hanya beberapa senti di depan mata Anda. Seorang teman arsitek, juga seorang Muslim, pernah melontarkan gagasan menggelitik, apakah mungkin nanti suatu saat orang pergi naik haji cukup dengan melakukan ‘ibadah haji’ di depan layar monitor di tanah air saja lebih praktis. (Maaf, bila kasus ini dianggap absurd).

Ada aura dari suatu karya yang tak tergantikan oleh simulasi, apalagi secara virtual. Pada waktu lukisan asli Monalisa dipinjamkan oleh pemerintah Perancis untuk dipajang di Tokyo beberapa tahun yang lalu, orang Jepang mau antri ratusan meter hanya untuk menonton lukisan yang asli. Padahal mereka bisa beli repro lukisan tersebut dan ditaruh di ruang keluarga masing-masing. Banyak warga Jakarta beberapa tahun silam mau bersusah-susah pergi ke Singapura untuk menonton pertunjukan langsung Michael Jackson, sekalipun di rumah mereka ada rekaman pertunjukan si mega bintang yang dapat dimainkan dengan kualitas suara secara hampir mendekati asli.

Bagi seorang seniman perupa atau seorang arsitek seniman, karya ultimate haruslah yang materialized. Bukan karya yang masih hanya terlihat di layar monitor. Karena yang itulah yang dihargai masyarakat. Bagi seorang Peter Eisenman, sejauh-jauhnya dia mendekonstruksikan seni bangunan, tidak akan pernah dia mendekonstruksi karyanya ke dalam karya maya.

Singkat kata, cyberspace, sebagai salah satu inovasi teknologi akan semakin meningkat peranannya dalam banyak segi kehidupan manusia. Namun produk budaya manusia itu tidak akan menggeser kedudukan apalagi memusnahkan arsitektur yang telah memiliki tradisi panjang dalam hal penciptaan dan penggunaan. Kedua produk budaya tersebut akan tetap ada, saling berdampingan.

(Eko Purwono, Jurusan Teknik Arsitektur ITB)