Sebuah Representasi Emosi melalui Seni, Instalasi, dan Musik

Picture

Gambar 1. Acara Senandung Arsitektur(SENAR) Universitas Pelita Harapan bertempat di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat.
​Sumber : dok. SKETSA

Sebagai mahasiswa arsitektur tentu kita sudah sangat akrab dengan rasa tertekan, kewalahan, stres dan berbagai emosi yang bercampur menjadi satu. Kita juga pasti pernah merasa jenuh dengan banyaknya tugas dan tenggat waktu. Terinspirasi dari hal-hal tersebut, Gabungan Mahasiswa Arsitektur Universitas Pelita Harapan (GAMATARA) mengadakan acara Senandung Arsitektur (SENAR) di Jakarta Creative Hub pada Jumat (14/7)sampai Minggu (16/7) yang merupakan acara baru oleh GAMATARA sebagai wujud representasi dari berbagai emosi yang dirasakan oleh mahasiswa arsitektur melalui seni, instalasi, dan musik.
 
Berlandaskan pada empat emosi yang sering dirasakan oleh mahasiswa arsitektur – overwhelmedthreatenedfreedomsatisfaction – acara ini dikemas dalam tiga modul program yaitu instalasi, performa seni, dan musik. Keempat emosi tersebut bertransformasi menjadi sebuah alur cerita dalam bentuk atmosfer arsitektural yang dihadirkan dengan merangsang panca indera manusia – pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan sentuhan – melalui instalasi dan performa seni

Picture

Gambar 2. Instalasi bambu gantung yang merepresentasikan perasaan overwhelmed.
​Sumber : dok. SKETSA

​Instalasi pada acara SENAR ini terletak di sebuah ruangan tertutup yang terpisah dari area acara utama. Saat pertama kali memasuki ruangan, pengunjung akan disambut dengan instalasi bambu gantung interaktif yang disorot oleh sinar proyektor. Bambu tersebut berbenturan secara abstrak dan mengeluarkan suara saat pengunjung bergerak melewatinya. Dalam ruang instalasi diputarkan pula lagu instrumental yang memunculkan atmosfer rasa panik dan kewalahan yang merepresentasikan perasaan overwhelmed.

Picture

Gambar 3. Penggunaan warna merah dalam lorong instalasi merupakan representasi dari perasaan threatened.
​Sumber : dok. SKETSA

Pada akhir dari instalasi bambu gantung, terlihat lorong yang didominasi oleh cahaya merah dan jalinan tali tambang abstrak – membuat pengunjung secara interaktif merunduk dan melangkahi jalinan tali tersebut untuk sampai ke instalasi selanjutnya. Penggunaan cahaya merah pada instalasi yang sengaja dibuat tidak ergonomis bagi manusia ini memancing reaksi pengunjung untuk merasa tertekan. Lorong selanjutnya adalah lorong masif yang masih didominasi oleh warna merah dengan tirai hitam pada ujung lorong tersebut

Picture

Gambar 4. Cahaya berpendar dari lampu gantung di dalam ruangan yang dipenuhi kaca merepresentasikan freedom and satisfaction.
​Sumber : dok. SKETSA

Di balik tirai hitam, terdapat ruangan berisi kaca dengan lampu gantung yang berpendar, memberikan atmosfer yang lebih teduh dan nyaman sebagai akhir dari instalasi. Secara implisit, instalasi mengalami transisi dari atmosfer negatif ke atmosfer positif – merepresentasikan emosi akhir seorang mahasiswa ketika telah melalui perjuangan yang berat menghadapi tenggat waktu dan segala tugas yang ada di dalam jurusan arsitektur

Picture

Gambar 5. Ketua Divisi Instalasi SENAR, John Lado Gozali, ketika diwawancara oleh tim Majalah SKETSA
​Sumber : dok. SKETSA

Persiapan acara SENAR memakan waktu kurang lebih tiga bulan – mulai dari pencarian tema, konsep, dan modul acara. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa dan peserta baik dari kalangan arsitektur maupun umum ini bertujuan menghadirkan sisi lain arsitektur dalam sebuah acara seni. “Acara ini ingin menunjukkan identitas arsitektur UPH dan diharapkan dapat menjadi acara tahunan atau dua tahunan dengan menargetkan mahasiswa dan masyarakat umum pecinta seni,” demikian ujar John Lado Gozali selaku Ketua Divisi Instalasi SENAR.

Picture

Gambar 6. Penampilan dari para music performers menutup acara SENAR yang berlangsung dari Jumat(14/7) sampai Minggu (16/7)
​Sumber : dok. SKETSA

SENAR juga dimeriahkan oleh penampilan sejumlah artis seperti, Teddy Adhitya, Vira Talisa, Reality ClubJanitra, dan beberapa band internal sebagai puncak acara. Acara ini menunjukkan warna-warna yang memenuhi keseharian seorang mahasiswa arsitektur – yang dikenal berat dan sibuk – serta menjadi pengingat bahwa melalui seni, arsitektur dapat berbicara kepada kita dan menyampaikan berbagai perasaan yang mungkin tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.(MC)

Bagaimana dengan Teman-Teman SKETSA? Apakah ada acara seperti ini juga di kampus kalian?