“Untung saja aku tinggal di Indonesia.” Pernah kita berucap demikian? Selama ini kita pijaki tanahnya, kita tinggal di atas tanah Indonesia dan hidup bersamanya. Selama itu pula kita kerap menggerutu, mengkritik dan mengadah tanpa malu. Pernahkah kita bersyukur?

Genap sudah tujuh dasawarsa pengorbanan orang-orang yang lebih dulu mensyukuri  tanah Indonesia ini kembali diingat. Usaha, kerja sama dan kegigihan mereka yang beriringan dengan keringat dan darah yang bersatu berhasil mengangkat kembali derajat Indonesia kembali ke titik mula. Mengejar ketertinggalan serta mencoba maju ke titik yang telah ditargetkan.

Angka “17” yang bertengger pada tanggalan kalender bulan Agustus memang jadi hari yang diperingati oleh semua khalayak. Bukan hanya untuk mengenang perjuangan mereka, tapi juga untuk memperlambat kecepatan sejenak. Terkadang perlu kita melihat sejenak masa lalu, bukan untuk diratapi tapi untuk diresapi.

Meresapi masa lalu memang tak mudah, butuh lebih dari sekedar memori akan luka karena penjajahan. Tapi terkadang kita butuh pihak yang bisa bercerita kembali dan tetap diam membisu untuk menjaga ceritanya tetap lugas, jelas dan mantap.  Tanpa perlu bersusah payah mencari, “ruang” dihadapan kita sudah bisa mantap bercerita.

Sering disebut miniatur Indonesia, relung-relung di kota Jakarta kali ini siap bercerita. Tanpa segan dan malu mereka berdialog bebas dengan kita di tengah-tengah semarak akan peringatan 17 Agustus.  Salah satunya tentang  arsitektur, warisan dari penjajah, yang tertinggal.

(Sumber: www.google.com)

Sebagai  “mantan” penjajah, arsitektur masih bisa menumpang di tanah Indonesia, salah satunya di daerah yang sekarang sering disebut sebagai Kota Tua. Kota yang telah mengalami akulturasi budaya “luar” yang paling signifikan dan terlihat ini  masih bisa jelas terlihat struktur dan polanya. Perpaduan dari berbagai bentuk arsitektur yang dianggap tepat untuk berkembang di Indonesia yang sudah di uji coba secara terus menerus sejak era kolonial pada awal abad 18. Selebihnya tidak semua daerah semujur dan seberuntung Kota Tua. Baik fasad bangunan yang datar tanpa beranda, jendela besar, serta atap yang memiliki ventilasi kecil yang biasa terlihat di Kota Tua juga terlihat di bagian tertua kota bertembok kolonial.

Sebelumnya bangunan yang ada karena hasil perpaduan berbagai desain budaya, sejak adanya pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada tahun 1814 – 1930, penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal.

Untuk peningkatan desain di Indonesia banyak perdebatan pada sekitar tahun 1920 – 1930-an mengenai masalah identitas Indonesia dan karakter tropis. Berberapa arsitek Belanda seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, serta masih banyak lagi yang terlibat dalam wacana yang sangat produktif baik secara akademis maupun praktek. Salah satunya adalah wacana yang dikenal dengan sebutan “Indisch-Tropisch” yang berkembang sekitar tahun 1930-an. Indisch-Tropisch adalah gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi oleh Belanda.

(Sumber : www.google.com)

Melihat dari perkembangannya, wujud arsitektur kala dulu bisa menjadi salah satu tolak ukur perkembangan Indonesia. Namun sayangnya tidak semua bangunan yang serupa juga bernasib baik. Hampir mayoritas bangunan yang ditinggalkan pemiliknya kala itu hancur tak bersisa karena menjadi obyek pelampiasan emosi. Kini bangunan dengan wujud aslinya yang tersisa hanya sedikit , selain karena dihancurkan tapi juga karena tidak terawat dan menalami permak di sana-sini tanpa adanya pertimbangan lebih lanjut mengenai wujud asli dari bangunan.

London Sumatra Indonesia (Sumber : www.google.com)

Kita haruslah mulai sadar untuk menyisihkan apa yang tersisa dari masa lalu untuk generasi mendatang. Agar di masa mendatang nanti mereka bisa juga berdialog langsung dengan masa lalu untuk membantu memberikan “wejangan” sebagai persiapan di masa mendatang. Walaupun bangunan lama ini bisa dikatakan “sisa” dari masa-masa kelam Indonesia dulu bukan berarti selamanya hanya sebatas itu maknanya.  (NIW)