Bagaimana pendapat Anda tentang Shopping Center (SC) di Jakarta?

Yang menarik dari kunjungan saya selama 5 hari di Jakarta, beberapa cluster SC yang saya kunjungi kebanyakan tidak menyediakan akses yang nyaman bagi pengunjungnya untuk berpindah ke bangunan SC lain disekitarnya.  Seperti di Senayan, untuk berpindah dari satu SC ke SC lainnya, kita harus menuju tempat parkir terlebih dahulu lalu naik mobil. Kalaupun kita memilih untuk berjalan kaki, SC tidak menyediakan jalur pejalan kaki yang nyaman. Tapi saya rasa hal itu akan berubah beberapa tahun ke depan. Arsitek di luar Indonesia sekarang mulai memasukkan struktur atau pohon-pohon besar ke dalam desainnya untuk kenyamanan pejalan kaki.

Ada tiga hal yang saya simpulkan mengenai SC di Jakarta yaitu:

1.      Pengetahuan para developer Shopping Center di Indonesia tidak kalah dibangingkan developer SC di Swiss. Arsitektur SC di Indonesia sekarang sudah berada di tingkat yang sama dengan Los Angeles, Hongkong dan negara-negara lainnya.

2.      Masalah keamanan di Jakarta tidak terlalu baik untuk SC

3.      Mall-mall di Jakarta terlalu banyak menggunakan struktur yang boros energi. Kita harus merancang agar SC berkesinambungan (sustainable)

Mall Kelapa Gading adalah contoh SC dengan fungsi campuran yang sangat baik. SC tersebut memiliki 3 jenis ruang publik yaitu jalan raya di sekelilingnya (tetapi tidak menjadi potensi di Jakarta karena tingkat kemacetan yang parah), ruang di dalam SC itu sendiri dan koridor galeri di bagian bangunan hiburan (La Piazza).

Kebanyakan SC di Jakarta tidak memikirkan aksesibilitas pengunjung yang datang dengan kendaraan umum maupun berjalan kaki. Dari presentasi Anda, saya juga menangkap yang sama pada desain SC John Jerde dan Victor Gruen. Hal ini terlihat dari desain-desain mereka syang selalu menyediakan lahan parker super luas. Apakah hal ini menunjukkan bahwa SC yang baik memang harus mengutamakan akses kendaraan pribadi? Pada awalnya bangunan sc di Amerika sengaja dibangun di daerah sub urban dan jauh dari perumahan agar tidak mengganggu ketenangan penghuninya. Itulah mengapa pada masa-masa ini lahan parkir menjadi hal yang sangat pentung pada desain SC. Namun, seiring dengan semakin padatnya daerah sub urban dan kembalinya SC ke tengah kota, saya rasa salah bila SC dikelilingi jalan layang SC harus terbuka untuk masyarakat.

Di Indonesia, developer SC belum memiliki kesadaran untuk meyediakan fasilitas sosial di dalam bangunannya sebagai kontribusi kepada masyarakat sekitar. Apakah hal ini juga terjadi di negara Asia lainnya atau hanya di Jakarta saja?

Saya rasa ada kemiripan dalam sejarah negara-negara di Asia. Tetapi tiap kota punya budaya dan etnis yang berbeda-beda. Yang menarik mengenai kota-kota di Asia adalah perkembangannya yang sangat cepat. Kita dapat melihat beberapa kesalahan yang dilakukan negara-negara Barat diulang lagi di Asia. Tetapi karena masyarakatnya yang sangat dinamis, saya yakin kesalahan-kesalahan yang dilakukan ini akan diperbaiki. Itulah kenapa meskipun saya tidak mengenal Jakarta, saya yakin akan berubah suatu hari nanti Karena masyarakatnya sangat dinamis.

Seseorang memberi tahu saya kemarin bahwa pemerintah RRC mengeluarkan peraturan baru bahwa produksi kendaraan pribadi setelah tahun 2010 haruslah ramah lingkungan dan mendukung kehidupan yang berkelanjutan (green and sustainable). Pemerintah RRC sudah memikirkan hal ini, padahal negera Jerman ataupun negara lainnya belum. Karena kota dalam skala mikro bersaing satu sama lainnya.

Jumlah SC di Jakarta tidak sebanding dengam jumlah ruang public kota. Apakah sebenarnya ada solusi terbaik untuk menyeimbangkan kedua hal ini?

Saya rasa SC di Jakarta sudah mencapai oversupply. Energi dan uang yang ada harus mulai dialihkan ke pengembangan yang lain. Inilah yang terjadi di Amerika. Ketika area sub urban sudah penuh dengan SC, SC akhirnya didirikan di tengah kota. Developer pun sudah mulai tertarik dengan ide memasukkan fasilitas public ke dalam bangunan dan mengintegrasikan SC dengan fasilitas di sekitarnya.

Saya merasa saat ini pembangunan di Indonesia sedang berada pada titik ekstrim dan pembanguan SC sendiri sudah hampir sampai pada titik klimaksnya. Apabila terjadi resesi ekonomi, hal ini akan berakibat sangat buruk. Jadi arus investasi harus dialihkan ke bidang lain. Saya harap di masa depan dengan tokoh-tokoh politik yang berbeda, masyarakat yang sudah berbeda , perubahan akan terjadi. Ide akan penyeimbangan jumlah ruang publik dan SC akan diterapkan.

Jakarta tidak akan bisa menjadi tujuan wisata belanja hanya dengan memilik 35 buah SC yang untuk berpindah dari satu bangunan lainnya membutuhkan 30 menit perjalanan dengan mobil. Jakarta akan memiliki identitas kota apablia kotanya aman, banyak kegiatan yang menyenangkan, memiliki ruang publik yang nyaman dan unsur-unsur pendukung lainnya. SC tidak akan berhasil, SC don’t do it alone.

(avOh). SKETSA edisi 22

Picture