Gambar 1. Zaha Hadid, seorang arsitek wanita ternama di dunia (Sumber : theconversation.com)

Pada era arsitektur modern hingga post-modern banyak arsitek pria yang memegang peranan penting di dalam perubahan dunia arsitektur, hal ini membuat arsitek wanita menuntut adanya kesetaraan hak dengan gerakan feminisme di dunia arsitektur. Apalagi pada saat ini jumlah arsitek wanita telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, namun tampaknya karya mereka masih belum mendapatkan apresiasi yang layak jika dibandingkan dengan arsitek pria.

Banyak arsitek wanita terjebak dalam stigma bahwa mereka harus sehebat Zaha Hadid agar karyanya dapat diapresiasi. Menurut Linda Nochlin, seorang profesor di New York University of Fine Arts berkata bahwa tidak ada seniman perempuan hebat karena perempuan tidak mampu menjadi hebat. Mengapa demikian? perempuan cenderung sulit untuk berkembang karena sudah nyaman dengan kehidupan personal mereka, seperti telah menikah dan berkeluarga.

Lori Brown, seorang profesor di Syracuse University School of Architecture berpendapat bahwa sebenarnya perempuan tidak hanya selalu menjadi pengikut, tetapi juga dapat memimpin. Perempuan memiliki potensi dan kemampuan untuk memimpin yang tidak kalah dari laki-laki. Kemudian Francesca Lagerberg, seorang pemimpin umum perusahaan Grant Thornton International mengatakan bahwa pada tahun 2020, terdapat peningkatan pada kesetaraan gender di level pemimpin tertinggi perusahaan. Jika tahun sebelumnya hanya 15% perusahaan di dunia yang posisi CEO dijabat oleh wanita, tahun ini terjadi peningkatan menjadi 20%. Ternyata kini kesetaraan hak mulai diterapkan yang dibuktikan oleh banyak perempuan yang menjadi pemimpin.

Gambar 2.  Cover jurnal Making Room : Women and Architecture (Sumber : archdaily.com)

Pada tahun 1979alah satu tim dan editor jurnal Making Room : Women and Architecture yaitu Leslie Kenes Weismann bersama ketiga rekannya dari Women’s School of Planning and Architecture (WSPA) mendirikan Women’s Development Corporation yang bertujuan untuk melawan pihak – pihak yang tidak mendukung perbedaan ras, orientasi seksual, dan rasisme. Selain itu, Noel Phyliss Birkby yang merupakan co- founder WSPA membuat seminar dengan judul dimana ditemukan ketertarikan arsitektur yang mulai terbebas dari kultur yang hanya didominasi oleh kaum pria.

Perkembangan dari arsitektur dan wanita saat ini harus kita lihat dari suatu pernyataan dan bukan pertanyaan. Jangan lagi kita bertanya siapa arsitek perempuan, apa pengaruh mereka, tetapi kita harus melihat bagaimana perempuan memiliki peranan yang setara dengan laki-laki dalam perkembangan arsitektur. Melalui perjuangan para aktivis arsitektur feminisme, mereka ingin setiap arsitek memiliki tanggung jawab untuk terus berkarya dan semua karya arsitektur itu patut untuk diapresiasi tanpa adanya standar gender.