Beberapa waktu yang lalu, sebuah perusahaan pakaian terdesak untuk menutup 5 gerainya setelah 28 tahun berbisnis.  Tidak jauh dari sana, ada juga gerai waralaba besar yang terpaksa gulung tikar setelah 8 tahun beroperasi di Indonesia. Pemberhentian operasional beberapa sektor bisnis di Indonesia, seperti perhotelan, pakaian, restoran, dan lain-lain makin terlihat signifikan seiring peningkatan jumlah kasus Covid-19. Bertambahnya kasus membuat konsumen lebih waspada, sehingga daya beli menurun. Untuk menanggulangi isu akibat pandemi ini, pemerintah telah berupaya mengadakan program vaksinasi gratis bagi seluruh masyarakat. Namun apa daya, masih ada masyarakat yang menolak menjalani proses vaksinasi atas ketidak percayaannya terhadap vaksin, efek sampingnya, atau bahkan pengembangannya yang dinilai terlalu cepat.

Gambar 1. Office Building ICÔNE di Luxembourg – Foster + Partners (Sumber: stirworld.com)

Pada dasarnya, teknologi medis akan selalu berkembang dan dapat mempercepat penyempurnaan vaksin. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa vaksinasi belum sepenuhnya mampu menghindarkan kita dari virus, tetapi setidaknya ditambah dengan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dapat meminimalisir penularan virus saat beraktivitas di ruang publik. Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas adalah upaya prokes 5M di Indonesia. Keadaan “new normal”; beraktivitas dengan prokes, perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang sesuai budaya pasca pandemi ini. Salah satunya peran perancangan arsitektur dalam mengembangkan gagasan baru, guna memastikan penggunanya aman dan terhindar dari transmisi virus Covid-19. Sebagai contoh, pada bangunan umum diaplikasikan pintu otomatis guna meminimalisir sentuhan. Selain itu, dapat pula berupa desain gedung kantor menggunakan konsep ruang terbuka dengan menambahkan elemen vegetasi untuk memaksimalkan sirkulasi udara, kenyamanan, dan kesehatan pekerja.

Gambar 2. Restaurant & Bar karya Renesa Architecture Design Interior Studio (Sumber: archdaily.com)

Satu studi kasus terdapat pada restoran dan bar karya Renesa Architecture Design Interior Studio di New Delhi yang mengaplikasikan konsep “Social with Distancing” pada perancangannya. Suasana koneksi sosial di era new normal diadaptasikan pada desain salah satu pola meja makan dengan pendekatan multilevel. Antara dua buah meja makan yang terpisah, disisipkan satu buah meja makan yang dapat diakses dengan cara menaiki tangga. Dengan demikian, hasil perancangan arsitektur tidak hanya berperan dalam mencegah penyebaran Covid-19, tetapi juga turut memaksimalkan efisiensi ruang.

Gambar 3. Layout meja makan di “Social With Distancing” Restaurant & Bar  (Sumber: archdaily.com)

Mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah, hingga arsitektur kini sedang bergotong royong guna memulihkan kondisi yang aman untuk beraktivitas secara normal kembali. Segala macam upaya pencegahan covid, baik secara internal maupun eksternal terus dikembangkan dan disebarkan kepada khalayak umum. Namun, upaya itu tidak akan berarti banyak tanpa adanya dukungan dari semua pihak. Pada akhirnya kita perlu menunjuk diri kita sendiri, siapkah kita untuk vaksinasi dan melangkah menuju new normal?